Setiap orang yang berpikir sehat tentunya sepakat bahwa mendidik anak itu perlu ilmu. Jangankan mendidik anak, hanya sekedar masak nasi pun butuh ilmu kan?
Jadilah Orang Tua Betulan, Bukan Kebetulan Jadi Orang Tua
Setiap orang yang berpikir sehat
tentunya sepakat bahwa mendidik anak itu perlu ilmu. Jangankan mendidik
anak, hanya sekedar masak nasi pun butuh ilmu kan?
Apalagi mendidik anak yang
diposisikan dalam jalur ibadah ini dan diharapkan menghasilkan amal-amal
jariyah. Benarlah kata Imam Al-Bukhari rahimahullah, al-’ilmu qoblal qaul wal ‘amal.
Apabila kita telah sama-sama tahu
bahwa mendidik anak itu sangat butuh ilmu, marilah kita bandingkan
antara dua aktifitas keseharian kita, yaitu mendidik anak dan bekerja.
Banyak orang yang sangat antusias
mempersiapkan diri untuk menjadi pegawai atau profesi tertentu yang
menjadi cita-citanya semenjak duduk di SD. Tidak hanya sekedar kegiatan
utama KBM di kelas, namun juga les privat dan kursus pun dijalani untuk
sebuah persiapan itu, bahkan sampai kuliah gelar S3 bukan?
Hal itu berarti untuk urusan
pekerjaan bagi banyak orang harus benar-benar menjadi ‘profesionalis
betulan’ dan bukan ‘kebetulan profesional’ kan?
Namun…
Untuk urusan menjadi orang tua, sang
pendidik anak, apakah banyak orang mempersiapkan diri seperti persiapan
mereka untuk menjadi profesionalis? Bukankah urusan pekerjaan itu pada
umumnya ada jam kerja yang terbatas beberapa jam saja? Adapun tugas
menjadi orang tua dan mendidik anak tak terbatasi dengan ‘jam kerja’
bukan?
Tapi…
Lihatlah kenyataannya antara dua
urusan tersebut, sungguh jauh berbeda. Banyak lho, lelaki yang
menyandang gelar ‘bapak’, hanya karena istrinya melahirkan anak. Dan gak
kalah banyaknya, wanita yang dijuluki ibu, hanya karena baru saja
melahirkan sang jabang bayi.
Yang laki-laki adalah bapak ‘kebetulan’ , nah yang wanita adalah ibu ‘tak diprogram’.
Kalau urusan pekerjaan, sampai harus melakukan standarisasi dan
sertifikasi, namun jika urusan menjadi orang tua sang pendidik anak,
cukuplah belajar sambil langsung magang atau learning by doing.
Ini mirip dengan prinsip muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga!
Urusan mendidik anak, bukan asal punya uang sehingga bisa memasukkan
sang anak ke sekolah unggulan. Boleh jadi, sekolahnya yang unggulan,
namun lulusannya bisa saja bukan manusia unggulan. Terlalu banyak
perkara yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Ustadzuna Abdullah Zaen, MA hafizhahullah mengatakan, “Uang
memang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang
lelap. Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati
untuk tinggal di dalamnya. Uang juga bisa membeli pesawat televisi yang
sangat besar untuk menghibur anak, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk
memberi dukungan saat mereka terempas. Betapa banyak anak-anak yang
rapuh jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh
bangunannya. Mereka mendapatkan apa saja dari orangtuanya, kecuali
perhatian, ketulusan dan kasih sayang” (Dinukil dan diolah dari : http://tunasilmu.com/jurus-jitu-mendidik-anak/).
[Bersambung]
***
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Artikel Muslim.or.id
Post a Comment