[ mafahimuna ]
Jika kita ingin pergi dari lokasi A menuju lokasi B, kita bisa melakukannya dengan menggunakan wasilah (perantara) apa saja. Bisa naik pesawat, kereta, mobil, atau motor. Yang penting tujuannya tercapai, yaitu lokasi B.
Ini menunjukkan bahwa tujuan (ghoyah) itu dari aspek tertentu lebih penting dan utama dibanding perantara (wasilah)-nya. Bahkan, dalam kondisi yang sangat urgen dan mendesak, orang tidak akan banyak berpikir mau naik apa agar bisa sampai ke lokasi B. Yang penting sampai dengan selamat, terserah mau memakai transportasi apa. Kendaraan apapun serasa tiada gunanya bila tidak bisa mengantarkan ke lokasi yang diinginkan.
Pun demikian halnya dalam beragama.
Tujuan utama adalah bisa memahami persoalan-persoalan secara baik dan benar; sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya, dan dipahami oleh para Salaf yang shalihsebagai generasi terbaik umat ini. Baik itu terkait aqidah, ibadah, muamalah, serta halal haram.
Salah satu wasilah untuk bisa sampai pada tujuan yang mulia tersebut adalah dengan menghafal Al Qur'an dan hadits, menguasai ilmu-ilmu alat, serta memahami aqwal para ulama. Ini semua adalah modal dan wasilah yang besar untuk sampai pada tujuan, yaitu pemahaman yang benar.
Konsekuensinya, bila seseorang memiliki banyak hafalan ini dan itu, namun ternyata belum sampai pada pemahaman yang benar tentang hukum dan ajaran Islam; maka ini berarti segala wasilah yang dimiliki tersebut serasa tidak ada gunanya.
Barakallahu fiikum.
Ustadzunaa Ammi Ahmad Hafidzahullahu Ta'aala

Post a Comment