Oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal
Al-Bugisi
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ
أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun
sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq)
melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (Al-Anbiya: 25)
رَسُولٍ
“Seorang rasul.” Yang dimaksud rasul di dalam
ayat ini bersifat umum, meliputi setiap yang diutus Allah Ta’aala baik dari
kalangan para nabi maupun rasul. Sedangkan secara istilah, terdapat perbedaan
antara makna nabi dan rasul. Sebab rasul memiliki kedudukan yang lebih tinggi
dari nabi, atau dengan ungkapan lain bahwa setiap rasul pasti seorang nabi
namun tidak setiap nabi memiliki gelar sebagai rasul.
Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan
keduanya. Sebagian ada yang mengatakan perbedaan di antara keduanya adalah
bahwa nabi adalah seseorang yang diberi wahyu oleh Allah Ta’aala namun tidak
diperintahkan untuk menyampaikan kepada umatnya. Sedangkan rasul adalah seorang
yang diberi wahyu oleh Allah Ta’aala dan diperintahkan untuk menyampaikan
kepada umatnya. Pendapat ini dijadikan sandaran oleh Al-Baihaqi dan yang
lainnya.
Ada pula yang mengatakan bahwa nabi adalah
seorang yang diutus dengan membawa syariat dan diperintahkan untuk disampaikan
kepada kaum yang telah siap menerimanya, atau tidak diperintahkan untuk
menyampaikannya. Sedangkan rasul adalah seseorang yang diutus dengan membawa
syariat dan diperintahkan untuk menyampaikan kepada kaum yang menyelisihinya.
Pendapat ini yang dipilih oleh Asy-Syaikh Shalih
Alusy Syaikh hafidzahullah. Namun yang nampak bahwa kedua pendapat ini
saling berkaitan. Ada lagi yang membedakan dengan cara yang lain, wallahu
a’lam. (Syu’abul Iman, Al-Baihaqi, 1/150, Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin, 1/124,
Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah Shalih Alusy Syaikh dari kaset yang ditranskrip,
Kitab At-Ta’rifat, Al-Jurjani, hal. 307)
نُوْحِي
“Kami wahyukan”, dengan huruf nun di depan. Ini
berdasarkan qira`ah Hamzah, Hafsh, dan Al-Kasa`i. Adapun yang lainnya membaca
dengan lafadz (يُوحَى) (diwahyukan kepadanya) dengan bentuk majhul yang didahului
dengan huruf ya. (lihat Tafsir Al-Qurthubi dan Al-Baghawi)
Wahyu yang dimaksud di dalam ayat ini adalah kabar dari Allah Ta’aal kepada hamba-hamba yang memang dikehendaki-Nya berupa hidayah dengan cara cepat dan tersembunyi. Definisi ini dibawa kepada setiap wahyu yang ditujukan kepada para nabi dan Rasul-Nya. Wahyu memiliki makna selain yang tersebut di atas, di antaranya:
1. Wahyu yang bermakna ilham dari Allah Ta’aala kepada fitrah
manusia, seperti wahyu yang ditujukan kepada Ibu Nabi Musa alaihi
salaam
وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ
“Dan Kami wahyukan (ilhamkan) kepada ibu Musa:
‘Susuilah dia’.” (Al-Qashash: 7)
2. Wahyu yang bermakna ilham yang diperuntukkan bagi watak dan
tabiat hewan tertentu, seperti wahyu yang diberikan kepada lebah dalam
firman-Nya:
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
“Dan Rabbmu mewahyukan kepada lebah: ‘Buatlah
sarang-sarang di bukit-bukit, pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang
dibuat manusia’.” (An-Nahl: 68) [Lihat kitab Mabahits fi ‘Ulumil Qur`an
karangan Manna’ Al-Qaththan hal. 26-27, Maktabah Wahbah, cet. ke-12]
فَاعْبُدُونِ
“Sembahlah Aku.” Maknanya adalah “tauhidkanlah
Aku.” Setiap lafadz di dalam Al-Qur`an yang menyebutkan ibadah kepada Allah Ta’aala
maka maknanya adalah mentauhidkan Allah Ta’aala dalam peribadahan kepada-Nya.
(Tafsir Ibnu Katsir, 1/58)
Adapun makna ibadah secara istilah adalah nama
yang mencakup setiap apa yang dicintai Allah Ta’aala dan diridhai-Nya, baik
berupa ucapan maupun perbuatan, yang lahir dan yang batin. (Majmu’ Al-Fatawa,
Ibnu Taimiyyah, 10/149)
Penjelasan Ayat
Ayat Allah Ta’aala yang mulia ini menjelaskan bahwa risalah yang dibawa oleh setiap nabi dan rasul adalah satu, yang menjadi inti dakwah mereka. Yaitu menyeru umatnya untuk beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan segala jenis peribadahan kepada selain-Nya. Di antara ayat yang semakna dengan ayat ini adalah firman-Nya:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ فَسِيرُوا فِي اْلأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada
tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah
thaghut itu.’ Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh
Allah dan ada pula orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka
berjalanlah kalian di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan
orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An-Nahl: 36)
Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah
mengatakan ketika menjelaskan surat Al-Anbiya ayat 25: “Tidaklah Kami utus
sebelum engkau seorang rasul kepada satu umat dari umat-umat yang ada, wahai
Muhammad, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan di
langit dan bumi, yang benar penyembahan kepadanya kecuali hanya Aku. Maka sembahlah
Aku, ikhlaskan ibadah hanya untuk-Ku, sendirikan Aku dalam uluhiyyah
(penyembahan).” (Tafsir At-Thabari)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah
mengatakan dalam menjelaskan ayat ini: “Setiap rasul sebelum engkau bersama
dengan kitab-kitab mereka, inti dan pokok risalah mereka adalah perintah
beribadah hanya kepada Allah Ta’aala semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan
menjelaskan bahwa sesembahan yang haq itu hanyalah satu dan sesembahan yang
selain Dia adalah batil.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
Qatadah rahimahullah mengatakan: “Para
rasul diutus membawa ikhlas dan tauhid, tidak diterima amalan apapun dari
mereka hingga mereka mengucapkan dan mengikrarkannya. Sedangkan syariat mereka
berbeda-beda. Dalam Taurat terdapat syariat tersendiri, dalam Injil juga terdapat
syariat tersendiri, dan dalam Al-Qur`an juga terdapat syariat tersendiri, ada
halal dan haram. Dan yang dimaksud dari ini semua adalah memurnikannya agar Allah
Ta’aala dan mentauhidkan-Nya.” (Tafsir At-Thabari)
Syaikhul Islam rahimahullah berkata: “Tauhid yang dibawa oleh para rasul mengandung penetapan bahwa uluhiyyah hanyalah milik Allah Ta’aala semata, agar seseorang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq melainkan Dia. Sehingga dia tidak menyembah kecuali hanya kepada-Nya, tidak bertawakal kecuali hanya kepada-Nya, tidak ber-wala` (loyalitas) dan bersikap bara` (antipati) kecuali karena-Nya, tidak beramal kecuali hanya untuk-Nya. (Fathul Majid, hal. 38-39)
Seluruh Risalah para Nabi di atas Tauhid,
walaupun Syariat Mereka Berbeda
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa inti risalah yang dibawa oleh setiap nabi adalah sama, yaitu memurnikan ibadah hanya untuk Allah Ta’aala. Tidak terjadi perbedaan di antara mereka dalam hal ini. Sebagian ayat Al-Qur`an menyebutkan lebih rinci tentang dakwah mereka. Seperti ketika Allah Ta’aala menjelaskan tentang dakwah Nabi Nuh alaihis salaam dalam firman-Nya:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada
kaumnya lalu ia berkata: ‘Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada
Ilah bagi kalian selain-Nya.’ Sesungguhnya (kalau kalian tidak menyembah
Allah), aku takut kalian akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).”
(Al-A’raf: 59)
Demikian pula dakwah Nabi Hud alaihis salaam kepada kaumnya, sebagaimana firman-Nya:
وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلاَ تَتَّقُونَ
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad
saudara mereka, Hud. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali
tidak ada Ilah bagi kalian selain-Nya. Maka mengapa kalian tidak bertakwa
kepada-Nya?’.” (Al-A’raf: 65)
Demikian pula dakwah Nabi Shalih p, sebagaimana firman-Nya:
Demikian pula dakwah Nabi Shalih p, sebagaimana firman-Nya:
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud
saudara mereka, Shalih. Ia berkata. ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali
tidak ada Ilah bagi kalian selain-Nya’.” (Al-A’raf: 73)
Demikian pula dakwah Nabi Syu’aib alaihis salaam, sebagaimana firman-Nya:
وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ
“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan
saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali
tidak ada Ilah bagi kalian selain-Nya’.” (Al-A’raf: 85)
Namun dalam hal hukum dan syariat yang diturunkan Allah Ta’aala kepada mereka, terjadi perbedaan antara syariat seorang rasul dengan rasul yang lainnya, sesuai dengan kemaslahatan dan hikmah yang Allah Ta’aala kehendaki atas mereka. Allah berfirman:
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
“Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami
berikan aturan dan jalan yang terang.” (Al-Ma`idah: 48)
Qatadah rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat ini: “Syir’atan wa minhajan adalah jalan dan metode (sunnah). Sunnah mereka berbeda-beda: Taurat memiliki sunnah sendiri, Injil memiliki sunnah sendiri, Al-Qur`an juga memiliki sunnah sendiri. Allah Ta’aala menghalalkan padanya apa yang Dia inginkan dan mengharamkan apa yang Dia inginkan sebagai cobaan, agar Dia mengetahui siapa yang taat dan siapa yang bermaksiat. Akan tetapi agama-Nya satu yang tidak diterima selainnya: tauhid dan ikhlas hanya untuk Allah. Itulah yang dibawa oleh para rasul.” Dalam riwayat lain beliau mengatakan: “Agama satu dan syariat berbeda.” (Lihat Tafsir At-Thabari)
Ini dikuatkan dengan hadits yang shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَاْلأَنْبِيَاءُ أَوْلاَدُ عَلاَّتٍ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِيْنُهُمْ وَاحِدٌ
“Para nabi itu saudara seayah, ibu-ibu mereka
berbeda dan agama mereka adalah satu.” (Muttafaq ‘alaihi dari hadits Abu
Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Al-Munawi rahimahullah berkata dalam Al-Faidhul Qadir (3/62): “Yaitu pokok agama mereka satu yakni tauhid, dan cabang syariat mereka berbeda-beda. Tujuan diutusnya para nabi yaitu membimbing seluruh makhluk diserupakan dengan ayah yang satu, sedangkan syariat mereka yang berbeda bentuk dan tingkatannya diserupakan dengan para ibu. Al-Qadhi berkata: ‘Kesimpulannya bahwa tujuan utama dari sebab diutusnya mereka semua adalah mengajak seluruh makhluk untuk mengenal kebenaran dan membimbing mereka menuju sesuatu yang mengatur kehidupan dunianya, serta memperbaiki hari di saat mereka kembali. Mereka sama dalam pokok ajaran ini, meskipun berbeda-beda dalam cabang-cabang syariat.
Maka beliau rahimahullah mengibaratkan pokok yang
terjadi kesamaan di antara (dakwah) mereka dengan ungkapan ‘ayah’ dan
menisbahkan mereka kepadanya. Dan beliau mengibaratkan perbedaan mereka dalam
hal hukum dan syariat yang dari sisi bentuk dan tingkatannya dalam hal tujuannya
dengan ungkapan ‘para ibu’. Walaupun berjauhan jaman dan kurun mereka, namun
asal yang menjadi sebab mereka dikeluarkan dan diutus adalah satu, yaitu agama
haq yang Allah telah menjadikannya sebagai fitrah bagi manusia yang siap
menerimanya, tegak di atasnya, dan berpegang teguh dengannya. Berdasarkan hal
ini, maka yang dimaksud dengan para ibu adalah zaman-zaman di mana mereka
diutus.”
Namun setelah diutusnya Rasulullah Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka syariat telah sempurna. Tidak lagi ada hukum yang benar kecuali apa yang telah dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab beliau diutus untuk seluruh umat manusia.
Allah Ta’aala berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ
“Dan Kami tidak mengutusmu melainkan kepada umat
manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi
peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Saba`: 28)
Rasululla shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً
“Dan adalah nabi terdahulu diutus kepada kaumnya
secara khusus, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia.” (Muttafaq ‘alaihi
dari hadits Jabir radhiallahu ‘anhu)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah
berkata: “Telah diketahui secara pasti dari agama Rasul n dan telah disepakati
umat ini bahwa pokok ajaran Islam, dan hal yang pertama kali diperintahkan
kepada seseorang adalah: syahadat La Ilaha illallah dan Muhammadur Rasulullah.
Dengan itu seorang yang kafir menjadi muslim, musuh menjadi kawan, yang halal
darah dan hartanya menjadi terjaga darah dan hartanya. Kemudian jika syahadat
tersebut berasal dari hatinya, maka dia telah memasuki tingkatan keimanan.
Namun jika dia hanya mengucapkan dengan lisannya tanpa keyakinan hatinya, maka
dia secara lahiriah menampakkan Islam tanpa keimanan dalam hati. Adapun orang
yang tidak berucap dengan lisannya, padahal dia mampu melakukannya, maka dia
kafir secara zhahir dan batin berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, menurut
pendahulu umat ini dan para imamnya serta mayoritas para ulama.” (Fathul Majid,
hal. 113)
Skala Prioritas dalam Berdakwah
Dari ayat ini kita dapat mengambil pelajaran yang
sangat penting, terkhusus bagi seorang dai yang mengajak manusia menuju jalan
Allah Ta’aala. Bahwa dalam mengemban amanah dakwah, hendaklah kita selalu
berusaha mengikuti tuntunan Allah Ta’aala dan Rasul-Nya, dengan senantiasa
mendahulukan skala prioritas dalam menyampaikan agama, dengan menerapkan
al-bad`u bil aham fal aham (mendahulukan yang terpenting kemudian yang
terpenting berikutnya).
Para nabi menjadikan inti dakwah mereka memurnikan ibadah hanya untuk Allah Ta’aala sebab walaupun mereka mengamalkan amalan yang lainnya, tapi bila tidak disertai memurnikan tauhid dalam beribadah kepada-Nya, maka hal tersebut akan menjadi sia-sia belaka. Allah Ta’aala berfirman:
وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللهِ وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْمُتَكَبِّرِينَ
“Dan pada hari kiamat kamu akan melihat
orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam
neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?”
(Az-Zumar: 60)
Dan juga firman-Nya:
وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya
lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88)
Inilah yang dajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus salah seorang mereka untuk berdakwah, beliau menasihatinya untuk memulai dakwahnya dengan yang terpenting. Di antara yang menunjukkan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu bahwa tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz radhiallahu ‘anhu ke Yaman, beliau berpesan:
إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ عِبَادَةُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا عَرَفُوا اللهَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ، فَإِذَا فَعَلُوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ، فَإِذَا أَطَاعُوا بِهَا فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ
“Sesungguhnya engkau mendatangi kaum dari ahli
kitab, hendaklah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah agar
mereka beribadah (mentauhidkan) hanya kepada Allah Ta’aala. Jika mereka telah
mengenal Allah, maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas
mereka shalat lima waktu pada setiap hari dan malam. Jika mereka telah
melakukan itu maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka
zakat yang diambil dari orang-orang kaya mereka lalu diserahkan kepada
orang-orang miskin mereka. Jika mereka telah menaatinya, maka ambillah dari
mereka dan berhati-hatilah dari harta yang sangat berharga milik mereka.”
(Muttafaq ‘alaihi dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam memerintahkan kepada Mu’adz radhiallahu ‘anhu untuk memulai dalam berdakwah dengan hal yang terpenting untuk mereka.
Wallahu a’lam.

Post a Comment