Panduan Ringkas, Lengkap & Mudah Ibadah Puasa Ramadhan Dari Kitab Al-Wajiiz
الوجيز في الفقه السنّة و الكـــــــتـــاب العزيز
كتـــاب الصيام
Alhamdulillah, dalam beberapa hari
kedepan insya Allah kita akan memasuki bulan Ramadhan untuk itu perlu
kiranya kita mempersiapkan bekal sebaik-baiknya terutama bekal ilmu
tentang ibadah puasa ramadhan. Untuk itu kami hadirkan terejemah dari
Kitab Puasa dari Kitab Al-Wajiiz Fil Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Aziz
karya Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi -hafizhahullah-.
Pembahasan yang disajikan dalam kitab ini
sangat ringkas dan mudah difahami, insya Allah. Lebih penting dari itu
adalah Syaikh membawakan dalil-dalil yang bisa dijadikan hujjah atas
setiap point yang beliau sampaikan. Semoga kita bisa mengisi Ramdahan
1435 H ini dengan ibadah yang lebih baik dan lebih sempurna.
Hukum Puasa
Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun dari rukun-rukun Islam dan juga merupakan salah satu kewajibannya.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى
الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ ۚ
فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ
أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ
مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ ۚ وَأَن
تَصُومُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ شَهْرُ رَمَضَانَ
الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ
الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ
وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ
وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang
sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang
tertentu. Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan
(lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang
ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang
yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah,
(yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan
hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan
berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(Beberapa hari yang ditentukan itu
ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan)
al-Qur-an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan
mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil).
Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat
tinggalnya) di bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan
(lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang
ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki
kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah
kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu,
supaya kamu bersyukur.” [Al-Baqarah: 183-185]
Telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بُنِيَ
اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ، شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ
مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَ إِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإيِْتَاءِ
الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَ صَوْمِ رَمَضَانَ.
“Islam didirikan di atas lima dasar,
yaitu bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan
benar kecuali Al-lah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan
shalat, mengeluarkan zakat, berhaji ke Baitullah dan puasa pada bulan Ramadhan.” [ Telah berlalu takhrijnya pada kitab ath-Thaharah]
Dan umat telah sepakat tentang kewajiban
puasa bulan Ramadhan, dan ia merupakan salah satu rukun dari rukun-rukun
Islam yang telah diketahui dari agama secara pasti. Barangsiapa yang
mengingkari akan kewajibannya, maka ia telah kafir atau keluar dari
Islam.[Fiqhus Sunnah (I/366).]
Keutamaan Puasa
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan
dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, niscaya dosa-dosanya yang
telah berlalu akan diampuni.” [Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (IV/115, no. 1901), Sunan an-Nasa-i (IV/157), Sunan Ibni Majah (I/526, no. 1641), Shahiih Muslim (I/523, no. 760).]
Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah
Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfiman:
كُلُّ عَمَلِ
ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِى بِهِ،
وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ, فَإِذَا كَانَ يَوْمَ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ
يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ وَلاَ يَجْهَلْ, فَإِذَا شَاتَمَهُ أَحَدٌ أَوْ
قَاتَلَهُ فَليَقُلْ إِنِّيْ صَائِمٌ, مَرَّتَيْنِ, وَالَّذِي نَفْسُ
مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ. وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ
يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ, وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ
فَرِحَ بِصَوْمِهِ.
“Setiap amal anak Adam adalah
untuknya sendiri kecuali puasa, di mana puasa itu adalah untuk-Ku dan
Aku akan memberikan pahala atasnya. Puasa itu adalah perisai, jika pada
hari yang salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah ia
mengucapkan kata-kata kotor, membuat kegaduhan dan tidak juga melakukan
perbuatan orang-orang bodoh. Dan jika ada orang yang mencacinya atau
menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang
berpuasa.’ -dua kali- Demi Rabb yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya,
sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi
Allah pada hari Kiamat nanti dari pada bau minyak kasturi. Bagi orang
yang berpuasa itu ada dua kegembiraan, jika berbuka, dia bergembira
dengan berbukanya dan jika berjumpa dengan Rabbnya dia juga bergembira
dengan puasanya.’” [Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (IV/118, no. 1904), Shahiih Muslim (II/807, no. 1151 (164), Sunan an-Nasa-i (IV/163).]
Al-Junnah, dengan mendhammahkan huruf jiim, artinya pencegah dan penghalang. Ar-Rafatsu, dengan membaris ataskan huruf ra’, fa’ dan tsa’, yaitu ucapan yang kotor. La yajhal, yaitu dia tidak melakukan perbuatan orang-orang yang bodoh seperti berteriak, kurang ajar atau yang lainnya. Al-khuluf, yaitu perubahan bau mu-lut orang yang berpuasa karena puasanya (Fat-hul Baari, IV/125, 26, 127, cet. Darul Ma’rifah).
Juga dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ فِي
الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ
الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَيَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ
يُقَالُ: أَيْنَ الصّاَئِمُوْنَ ؟ فَيَقُوْمُوْنَ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ
أَحَدٌ غَيْرُهُمْ, فَإِذَا دَخَلُوْا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ
أَحَدٌ.
“Sesungguhnya di Surga itu terdapat
satu pintu yang diberi nama ar-Rayyan. Dari pintu itu orang-orang yang
berpuasa akan masuk pada hari Kiamat kelak, tidak ada seorang pun yang
masuk melalui pintu itu selain mereka. Dikatakan kepada mereka, ‘Manakah
orang-orang yang berpuasa?’ Kemudian mereka berdiri (untuk
memasukinya), tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu itu selain
mereka, manakala mereka telah masuk, pintu itu ditutup dan tidak ada
yang masuk selain mereka.” [Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (IV/111, no. 1896) dan ini adalah lafazhnya, Shahiih Muslim (II/808, no. 1152), Sunan at-Tirmidzi (II/132, no. 762), Sunan Ibni Majah (I/525, no. 1640), Sunan an-Nasa-i (IV/168) dengan lafazh yang sama dan ada sedikit tambahan.]
Wajib Berpuasa Ramadhan Dikarenakan Melihat Hilal (Bulan)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ, فَإِنْ غُمِيَ عَلَيْكُمُ الشَّهْرُ فَعُدُّوْا ثَلاَثِيْنَ.
“Berpuasalah kalian karena telah
melihatnya (bulan) dan berbukalah kalian karena telah melihatnya pula.
Dan jika bulan itu tertutup dari pandangan kalian, maka hitunglah bulan
(Sya’ban) menjadi 30 hari.” [Muttafaq ‘alaihi: Shahiih Muslim (II/762, no. 1081 (19) dan ini adalah lafazh-nya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (IV/119, no. 1909), Sunan an-Nasa-i (IV/133).]
Dengan Apa Bulan Ditetapkan?
Bulan Ramadhan ditetapkan dengan melihat
hilal (bulan), walaupun yang melihatnya hanya satu orang yang terpercaya
atau dengan menggenapkan bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Telah
diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhu, dia berkata,
“Orang-orang sedang berusaha melihat hilal, lalu aku memberitahu
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya aku telah
melihatnya, kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan manusia untuk
berpuasa.” [Shahih: [Irwaa-ul Ghaliil (no. 908)], Fiqhus Sunnah (I/367), dan hadits ini di-riwayatkan oleh Abu Dawud (VI/468, no. 2325).]
Jika bulan tidak bisa dilihat disebabkan
oleh mendung atau yang lainnya, maka bilangan bulan Sya’ban digenapkan
menjadi 30 hari, berdasarkan hadits Abu Hurairah yang telah lalu. Adapun
bulan Syawwal, maka ia tidaklah ditetapkan kecuali dengan persaksian
dua orang.
Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Zaid
bin al-Kahthtab, bahwasanya dia berkhutbah pada hari yang diragukan
untuk berpuasa padanya, dan berkata, “Ketahuilah bahwasanya aku telah
bersama para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku
telah bertanya kepada mereka, lalu mereka mengatakan kepadaku bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
صُوْمُوْا
لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ, وَانْسُكُوْا لَهَا, فَإِنْ
غُمَّى عَلَيْكُمْ فَأَتِمُّوا ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا, فَإِنْ شَهِدَ
شَاهِدَانِ مُسْلِمَانِ فَصُوْمُوا وَأَفْطِرُوْا.
“Berpuasalah kalian karena telah
melihatnya (bulan) dan berbukalah kalian karena telah melihatnya pula,
serta beribadahlah karena melihatnya. Jika bulan itu tertutup dari
pandangan kalian, maka genapkanlah menjadi 30 hari. Dan jika ada dua
orang muslim yang memberi kesaksian (melihat bulan), maka berpuasa dan
berbukalah kalian.’” [Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 3811)], Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani IX/264 dan 265/50), Sunan an-Nasa-i (IV/132 dan 133) tanpa kalimat: مُسْلِمَانِ.]
Diriwayatkan dari Gubernur Makkah
al-Harits bin Hatibz, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam telah mengamanatkan kepada kami agar kami beribadah berdasarkan
melihat bulan. Jika kami tidak bisa melihatnya dan telah bersaksi dua
orang yang terpercaya (bahwa mereka telah melihatnya), maka kami
beribadah berdasarkan persaksian mereka berdua.” [Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 205), Sunan Abu Dawud (VI/463, no. 2321).]
Dalam sabdanya yang berbunyi “Dan jika ada dua orang yang memberi kesaksian (melihat bulan), maka berpuasa dan berbukalah kalian” dari hadits ‘Abdurrahman bin Zaid. Dan sabdanya, “Jika
kami tidak bisa melihatnya (bulan) dan telah bersaksi dua orang yang
terpercaya (bahwa mereka telah melihatnya), maka kami beribadah
berdasarkan persaksian mereka tersebut.” dalam hadits al-Harits,
keduanya memberi pengertian bahwa tidak boleh menetapkan saat berpuasa
dan berbuka (masuk bulan Syawwal) dengan persaksian satu orang saja,
kecuali penetapan waktu puasa karena telah ada dalil yang membolehkan
hal tersebut (persaksian satu orang), sedangkan waktu berbuka tidak ada
dalil yang menunukkan hal tersebut, maka ia tetap dalam hukum asalnya
(yaitu harus dengan persaksian dua orang yang terpercaya). [Sampai di
sini penukilan dari kitab Tuhfatul Ahwadzi (III/373-374), dengan sedikit perubahan.]
Perhatian:
Barangsiapa yang melihat hilal seorang
diri, maka janganlah ia berpuasa hingga manusia yang lainnya berpuasa.
Begitu pula jangan dia berbuka hingga mereka berbuka, berdasarkan
riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu
alaiahi wa sallam telah bersabda:
اَلصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ, وَاْلأضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ.
“Waktu puasa adalah hari di mana
kalian semua berpuasa, waktu berbuka (‘Iedul Fithri) adalah di hari
kalian semua berbuka, dan hari ‘Idul Adha ialah hari di mana kalian
berkurban.” [Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 3869)], Sunan at-Tirmidzi (II/101, no. 693) dan dia berkata, “Menurut sebagian ahli ilmu, maksud hadits ini adalah kita berpuasa dan berbuka bersama-sama dengan jama’ah dan orang banyak.“]
Kepada Siapa Puasa Diwajibkan?
Para ulama telah sepakat bahwa puasa
wajib atas seorang muslim yang berakal, baligh, sehat, dan bermukim
(tidak musafir), dan bagi seorang wanita hendaklah ia suci dari haidh
dan nifas. [Fiqhus Sunnah (I/506) cet. ar-Rayyan]
Adapun tentang tidak wajib berpuasa bagi
mereka yang tidak berakal dan belum baligh, maka berdasarkan sabda
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
رُفِعَ
الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ، وَعَنِ
النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ.
“Telah diangkat pena dari tiga
golongan: dari orang gila sampai ia sadar, dari orang tidur hingga ia
bangun, dan dari anak kecil hingga ia baligh.” [Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir 3514], Sunan at-Tirmidzi (II/102/693).]
Sedangkan tentang tidak wajibnya berpuasa atas orang yang sakit dan musafir, maka berdasarkan firman Allah Ta’ala:
وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“… Dan barangsiapa sakit atau dalam
perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak
hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain…” [Al-Baqarah: 185]
Jikalau orang yang sakit dan musafir
tersebut tetap berpuasa, maka hal tersebut telah mencukupinya, karena
dibolehkannya mereka berbuka merupakan suatu bentuk keringanan (rukhsah), dan jika mereka tetap melaksanakan yang wajib, maka itu adalah baik.
Mana Yang Lebih Utama Bagi Mereka, Berbuka Atau Puasa?
Jika orang yang sakit dan musafir tidak
mendapatkan kesulitan dalam berpuasa, maka berpuasa lebih utama,
sedangkan jika mereka menemukan kesulitan dalam berpuasa, maka berbuka
lebih utama.
Telah diriwayatkan dari Abu Sa’id
al-Khudri Radhiyallahu anhu, dia berkata: “Kami pergi berperang bersama
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat bulan Ramadhan, di
antara kami ada yang berpuasa dan ada yang berbuka. Mereka yang berpuasa
tidak mencela yang berbuka, begitu pula sebaliknya yang berbuka tidak
mencela yang berpuasa. Mereka berpandangan, bagi orang yang memiliki
kekuatan, berpuasa untuknya lebih baik. Dan bagi yang merasa lemah, maka
berbuka adalah lebih baik.” [Shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 574)], Shahiih Muslim (II/787, no. 1116 (96)), Sunan at-Tirmidzi (II/108, no. 708).]
Adapun tentang tidak wajibnya berpuasa
atas wanita yang sedang haidh dan nifas, maka berdasarkan hadits Abu
Sa’id Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِيْنِهَا.
“Bukankah mereka (para wanita) jika
sedang haidh mereka tidak shalat dan tidak berpuasa? Itulah kekurangan
mereka dari segi agama.” [Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 951], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (IV/191, no. 1951).]
Jika wanita yang haidh dan nifas tetap
berpuasa, maka puasanya itu tidak mencukupi mereka (tidak sah puasanya),
karena salah satu syarat puasa adalah suci dari haidh dan nifas, dan
wajib bagi mereka untuk mengqadha’ puasa tersebut.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu
anhuma, dia berkata, “Dahulu di saat kami sedang haidh di zaman
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami diperintahkan untuk
mengqadha’ puasa dan kami tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.” [Shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 630)], Shahiih Muslim (I/265, no. 335), Sunan Abi Dawud (I/444, no. 209, 260), Sunan at-Tirmidzi (II/141, no. 784), Sunan an-Nasa-i (IV/191).]
Apa Yang Wajib Dilakukan Oleh Lelaki Tua Jompo Dan Wanita Tua Yang Lemah, Juga Orang Sakit Yang Tidak Ada Harapan Sembuh?
Barangsiapa yang tidak mampu berpuasa
dikarenakan lanjut usia atau yang semisalnya, maka boleh baginya berbuka
dan memberi makan seorang miskin setiap hari dari hari-hari yang
ditinggalkannya, berdasarkan firman Allah:
وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ
“…Dan wajib bagi orang-orang yang
berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah,
(yaitu) memberi makan seorang miskin….” [Al-Baqarah: 184
]
Diriwayatkan dari ‘Atha’, bahwasanya dia mendengar Ibnu ‘Abbas membaca ayat tersebut, kemudian Ibnu ‘Abbas berkata, “Ayat ini tidak mansukh
(dihapus hukumnya), yang dimaksud adalah lelaki dan wanita yang sudah
lanjut usia, dimana mereka tidak mampu untuk berpuasa, maka mereka
memberi makan orang miskin setiap hari dari hari-hari yang
ditinggalannya.” [Shahih: [Irwaa-ul Ghaliil (no. 912)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari (VIII/179, no. 4505).]
Wanita Hamil Dan Menyusui
Wanita yang sedang hamil dan menyusui,
jika mereka tidak mampu untuk berpuasa atau khawatir akan anak-anaknya
bila mereka berpuasa, maka boleh bagi mereka berdua untuk berbuka dan
wajib atas mereka untuk membayar fidyah tetapi mereka tidak wajib
mengqadha’.
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyalahu
anhuma, bahwasanya dia berkata, “Diberikan keringanan kepada orang yang
sudah tua dan wanita tua yang lemah dalam hal tersebut, sedang keduanya
sanggup berpuasa untuk tidak berpuasa jika mereka mau dan memberi makan
orang miskin setiap hari serta tidak ada kewajiban qadha’ atas
keduanya. Kemudian hukum ini dinasakh dengan ayat ini:
فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“Barangsiapa di antara kamu yang hadir di bulan itu (Rama-dhan), maka hendaklah dia berpuasa.” [Al-Baqarah: 185]
Dan telah ditetapkan bagi orang yang
sudah tua dan wanita tua yang lemah, jika keduanya tidak mampu berpuasa.
Juga bagi wanita yang sedang hamil dan menyusui, jika keduanya
khawatir, maka mereka boleh tidak berpuasa dan harus memberi makan
seorang miskin setiap hari.” [Sanadnya kuat: HR. Al-Baihaqi (IV/230).]
Juga diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas
Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Jika wanita yang sedang hamil
khawatir akan dirinya, begitu juga wanita yang menyusui khawatir akan
anaknya di saat bulan Ramadhan, maka boleh bagi mereka berdua untuk
berbuka, kemudian memberi makan orang miskin setiap hari dari hari-hari
yang ia tinggalkan dan tidak wajib atas mereka mengqadha’ puasa.” [Shahih: Syaikh al-Albani menyandarkannya dalam Irwaa-ul Ghaliil (IV/19) kepada ath-Thabari (no. 2758) dan ia berkata sanadnya shahih sesuai dengan syarat Muslim.]
Dari Nafi’ Radhiyallahu anhu, dia
berkata, “Salah seorang puteri dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhu menjadi
isteri salah seorang laki-laki Quraisy, dan di saat Ramadhan ia sedang
hamil, kemudian ia kehausan, maka Ibnu ‘Umar memerintahkannya untuk
berbuka dan memberi makan seorang miskin setiap hari (yang
ditinggalkan).” [Sanadnya shahih: [Irwaa-ul Ghaliil IV/20], ad-Daraquthni (II/207, no. 15).]
Ukuran Makanan Yang Wajib Dikeluarkan
Diriwayatkan dari Anas bin Malik
Radhiyallahu anhu, bahwasanya dia pernah tidak mampu berpuasa selama
setahun (30 hari di bulan Ramadhan-pent.), maka dia pun membuat bubur
satu mangkuk besar dan memanggil 30 orang miskin hingga membuat mereka
semua kenyang. [Sanadnya shahih: [Irwaa-ul Ghaliil IV/21], ad-Daraquthni (II/207, no. 16).]
Rukun-Rukun Puasa
a. Niat
Berdasarkan firman Allah:
Berdasarkan firman Allah:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali
supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya
dalam (men-jalankan) agama yang lurus…” [Al-Bayyinah: 5]
Juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.
“Sesungguhnya amal perbuatan itu disertai niat dan setiap orang mendapat ganjaran atas amalnya sesuai dengan niatnya.” [ Telah berlalu takhrijnya pada kitab Thaharah.]
Dan niat tersebut harus dilakukan sebelum
terbit fajar di setiap malam Ramadhan. Hal ini berdasarkan hadits
Hafshah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَجْمَعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ.
“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum terbit fajar, maka tidak ada puasa baginya.” [Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 6538)], Sunan Abi Dawud (VII/122, no. 2437), Sunan at-Tirmidzi (II/116, no. 726), Sunan an-Nasa-i (IV/196) se-misal dengannya.]
b. Menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari
Allah Ta’ala berfirman:
Allah Ta’ala berfirman:
فَالْآنَ
بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا
وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ
الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى
اللَّيْلِ
“… Maka sekarang campurilah mereka
dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu dan makan minumlah
hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam,
yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam…” [Al-Baqarah: 187]
Ada Enam Hal yang Membatalkan Puasa
a, b. Makan dan minum dengan sengaja
Jika seseorang makan atau minum dalam keadaan lupa, maka dia tidak wajib mengqadha’ dan membayar kafarat, berdasarkan riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Jika seseorang makan atau minum dalam keadaan lupa, maka dia tidak wajib mengqadha’ dan membayar kafarat, berdasarkan riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ, فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ, فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ.
“Barangsiapa yang lupa bahwasanya dia
sedang berpuasa, lalu dia makan atau minum, maka hendaklah ia
menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah telah memberi makan
dan minum kepadanya.” [Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 6573)], Shahiih Muslim (II/809, no. 1155) dan ini adalah lafazhnya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (IV/155, no. 1923), Sunan Ibni Majah (I/535, no. 1673), Sunan at-Tirmidzi (II/112, no. 717).]
c. Muntah dengan sengaja
Sedangkan kalau tidak sengaja, maka tidak wajib atasnya mengqadha’ puasa dan membayar kafarat. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Sedangkan kalau tidak sengaja, maka tidak wajib atasnya mengqadha’ puasa dan membayar kafarat. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ ذَرَعَهُ القَيءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَمَنِِ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِِ.
“Barangsiapa yang muntah tanpa
sengaja, maka dia tidak wajib mengqadha’ puasa, sedangkan barangsiapa
yang sengaja muntah, maka wajib baginya mengqadha’.” [Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 6243)], Sunan at-Tirmidzi (II/111, no. 716), Sunan Abi Dawud (VII/6, no. 2363), Sunan Ibni Majah (I/536, no. 1676). ]
d, e. Haidh dan Nifas
Walaupun hal ini terjadi pada detik terakhir dari siang (menjelang buka puasa), berdasarkan kesepakatan (ijma’) para ulama.
Walaupun hal ini terjadi pada detik terakhir dari siang (menjelang buka puasa), berdasarkan kesepakatan (ijma’) para ulama.
f. Bersetubuh
Dan dengannya diwajibkan kafarat yang tersebut dalam hadits berikut:
Dan dengannya diwajibkan kafarat yang tersebut dalam hadits berikut:
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhua, dia
berkata, “Di saat kami sedang duduk bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, datanglah seorang laki-laki seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam binasalah aku.’ Beliau bertanya, ‘Apa yang telah membinasakan dirimu?‘ Dia menjawab, ‘Aku telah berhubungan badan dengan isteriku sedangkan aku dalam keadaan berpuasa Ramadhan.’ Beliau bertanya, ‘Apakah kamu mampu memerdekakan seorang budak?‘ ‘Tidak,’ jawabnya. Lalu beliau bertanya lagi: ‘Apakah engkau mampu berpuasa selama dua bulan berturut-turut?‘ Dia menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bertanya lagi, ‘Dan apakah engkau mampu memberi makan kepada 60 orang miskin?‘
Dia pun menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam diam, dan di saat kami sedang dalam keadaan seperti itu,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi sekeranjang ‘araq* kurma, lalu beliau berkata, ‘Mana orang yang bertanya tadi?‘ Orang itu pun menjawab, ‘Saya.’ Beliau bersabda, ‘Ambillah ini dan bersedekahlah dengannya!’
Laki-laki itu berkata, ‘Adakah orang yang lebih miskin dari pada kami
wahai Rasulullah? Demi Allah tidak ada satu keluarga di antara dua
tempat yang banyak batu hitamnya di Madinah yang lebih faqir dari pada
kami.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa hingga
terlihat gigi taringnya, kemudian beliau berkata, ‘Berilah makan keluargamu dari sedekah itu.’” [Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (IV/163, no. 1936), Shahiih Muslim (II/781, no. 1111), Sunan Abi Dawud (VII/20, no. 2373), Sunan at-Tirmidzi (II/113, no. 720), Sunan Ibni Majah (I/534, no. 1671).]
*) ‘Araq menurut fuqaha
adalah keranjang yang memuat 15 sha’, yaitu 60 mud. Untuk 60 orang
miskin, dan untuk setiap orang miskin mendapatkan satu mud. (Shahiih
Muslim Syarh Imam an-Nawawi (VII/226).-pent.)
Adab-Adab Puasa
Dianjurkan bagi orang yang berpuasa untuk memperhatikan beberapa adab berikut ini:
Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً.
“Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.“[Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari IV/139, no. 1923), Shahiih Muslim (II/770, no. 1095), Sunan at-Tirmidzi (II/106, no. 703), Sunan an-Nasa-i (IV/141), Sunan Ibni Majah (I/540, no. 1692). ]
تَسَحَّرُوا وَلَوْ بِجُرْعَةِ مَاءٍ.
“Makan sahurlah kalian meski hanya dengan seteguk air.” [Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 2945)], Shahiih Ibni Hibban (no. 223, 884).]
Jika adzan telah terdengar dan makanan atau minuman masih di tangannya, maka boleh ia memakan atau meminumnya, berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَاْلإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ.
“Barangsiapa di antara kalian yang
mendengar adzan (Shubuh) dan bejana (makanan) masih di tangannya, maka
janganlah ia menaruhnya sebelum ia menyelesaikan makannya.” [Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 607)], Sunan Abi Dawud (VI/475, no. 2333), Mustadrak al-Hakim (I/426). ]
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا كَانَ
يَوْمَ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ وَلاَ يَجْهَلْ,
فَإِذَا شَاتَمَهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَليَقُلْ إِنِّيْ صَائِمٌ.
“Jika pada hari salah seorang
diantara kalian berpuasa, maka janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor,
membuat kegaduhan dan tidak juga melakukan perbuatan orang-orang bodoh.
Dan jika ada orang yang mencacinya atau menyerangnya, maka hendaklah ia
mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” [Penggalan dari hadits: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya sendiri…” dan telah berlalu takhrijnya.]
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلِيْسَ ِللهِ حَاجَةٌ فِيِ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ.
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan
perkataan dusta dan mengerjakannya, maka Allah tidak memerlukan orang
itu untuk meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya).” [Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 921)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (IV/116, no. 1903), Sunan Abi Dawud (VI/488, no. 2345), Sunan at-Tirmidzi (II/105, no. 702).]
c. Sifat dermawan dan memperbanyak bacaan al-Qur-an
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling pemurah dalam kebaikan dan beliau akan lebih dermawan (dari hari-hari biasanya) pada bulan Ramadhan, ketika Jibril datang menemuinya dan adalah Jibril selalu datang menemuinya setiap malam dari malam-malam bulan Ramadhan, hingga Ramadhan selesai, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan al-Qur-an kepada Jibril. Dan di saat ia bertemu Jibril beliau lebih pemurah (lembut) dari angin yang berhembus dengan lembut.” [Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari I/30, no. 6), Shahiih Muslim (IV/1803, no. 2308).]
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling pemurah dalam kebaikan dan beliau akan lebih dermawan (dari hari-hari biasanya) pada bulan Ramadhan, ketika Jibril datang menemuinya dan adalah Jibril selalu datang menemuinya setiap malam dari malam-malam bulan Ramadhan, hingga Ramadhan selesai, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan al-Qur-an kepada Jibril. Dan di saat ia bertemu Jibril beliau lebih pemurah (lembut) dari angin yang berhembus dengan lembut.” [Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari I/30, no. 6), Shahiih Muslim (IV/1803, no. 2308).]
Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَزَالُ النّاَسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ.
“Umat manusia akan tetap baik selama mereka menyegerakan berbuka puasa.”[Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari IV/198, no. 1957), Shahiih Muslim (II/771, no. 1098), Sunan at-Tirmidzi (II/103, no. 695). ]
e. Berbuka puasa dengan apa yang mudah didapatkan baginya dari hal-hal yang tersebut dalam hadits berikut
Diriwayatkan dari Anas, dia berkata,
“Nabi biasa berbuka dengan ruthab (kurma segar) sebelum mengerjakan
shalat. Jika beliau tidak mendapatkan ruthab, maka beliau berbuka dengan
beberapa buah tamr (kurma masak yang sudah lama dipetik) dan jika tidak
mendapatkan tamr, maka beliau meminum air.” [Hasan shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 2065)], Sunan Abi Dawud (VI/ 481, no. 2339), Sunan at-Tirmidzi (II/102, no. 692).]
f. Berdo’a ketika berbuka puasa dengan do’a yang terdapat dalam hadits berikut ini
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berbuka puasa selalu membaca:
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berbuka puasa selalu membaca:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ.
“Telah hilang rasa haus dan telah basah urat-urat, serta telah ditetapkan pahala, insya Allah.” [Hasan: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 2066)], Sunan Abi Dawud (VI/482, no. 2340).]
Hal-Hal Yang Boleh Dilakukan Oleh Orang Yang Berpuasa
a. Mandi untuk mendinginkan badan
Diriwayatkan dari Abu Bakar bin ‘Abdirrahman, dari sebagian Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di al-‘Arj (nama sebuah desa yang berjarak beberapa hari perjalanan dari Madinah) sedang menyirami kepalanya dengan air, sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa, karena haus atau panas yang menyengat.”[Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 2072)], Sunan Abi Dawud (VI/492, no. 2348).]
Diriwayatkan dari Abu Bakar bin ‘Abdirrahman, dari sebagian Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di al-‘Arj (nama sebuah desa yang berjarak beberapa hari perjalanan dari Madinah) sedang menyirami kepalanya dengan air, sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa, karena haus atau panas yang menyengat.”[Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 2072)], Sunan Abi Dawud (VI/492, no. 2348).]
b. Berkumur dan memasukkan air ke hidung dengan tidak berlebih-lebihan
Dari Laqith bin Shabrah Radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Dari Laqith bin Shabrah Radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَبَالِغْ فِي اْلاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا.
“Dan lakukanlah istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) dengan sangat kecuali jika engkau dalam keadaan puasa.” [Telah berlalu takhrijnya pada kitab Thaharah.]
c. Hijamah (berbekam)
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Bahwa Nabi pernah berbekam sedang beliau dalam keadaan berpuasa.” [Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 2079)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (IV/174, no. 1939), Sunan Abi Dawud (VI/498, no. 2355), Sunan at-Tirmidzi (II/137, no. 772), dengan tambahan: “… Dan ia dalam keadaan ihram.”]
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Bahwa Nabi pernah berbekam sedang beliau dalam keadaan berpuasa.” [Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 2079)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (IV/174, no. 1939), Sunan Abi Dawud (VI/498, no. 2355), Sunan at-Tirmidzi (II/137, no. 772), dengan tambahan: “… Dan ia dalam keadaan ihram.”]
Akan tetapi berbekam dimakruhkan jika ia
khawatir menyebabkan badan menjadi lemah. Diriwayatkan dari Tsabit
al-Banani, dia berkata, Anas bin Malik pernah ditanya, “Apakah kalian
membenci berbekam bagi orang yang berpuasa?” Dia menjawab, “Tidak,
kecuali jika menyebabkan badan menjadi lemah.” [Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 947)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari
IV/174, no. 1940). Dan termasuk dalam hukum hijamah ini, donor darah,
jika orang yang mendonorkan darahnya khawatir akan dirinya, maka dia
tidak boleh melakukannya di siang hari kecuali jika terpaksa.]
d. Bercumbu dan berciuman bagi mereka yang mampu menahan dirinya
Telah diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, bahwa ia pernah bercerita, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium dan bercumbu yang saat itu beliau tengah berpuasa, hanya saja beliau adalah orang paling kuat menahan hawa nafsunya di antara kalian.” [Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari IV/149, no. 1927), Shahiih Muslim (II/777, no. 1106 (25)), Sunan Abi Dawud (VII/9, no. 2365), Sunan at-Tirmidzi (II/116, no. 725).]
Telah diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, bahwa ia pernah bercerita, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium dan bercumbu yang saat itu beliau tengah berpuasa, hanya saja beliau adalah orang paling kuat menahan hawa nafsunya di antara kalian.” [Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari IV/149, no. 1927), Shahiih Muslim (II/777, no. 1106 (25)), Sunan Abi Dawud (VII/9, no. 2365), Sunan at-Tirmidzi (II/116, no. 725).]
e. Bangun setelah waktu Shubuh tiba dalam keadaan junub
Berdasarkan apa yang diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma dan Ummu Salamah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapati fajar telah terbit sedang beliau dalam keadaan junub karena bercampur dengan isterinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa.[Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari IV/143, no. 1926), Shahiih Muslim (IV/779, no. 1109), Sunan Abu Dawud (VII/14, no. 2371), Sunan at-Tirmidzi (II/139, no. 776).]
Berdasarkan apa yang diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma dan Ummu Salamah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapati fajar telah terbit sedang beliau dalam keadaan junub karena bercampur dengan isterinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa.[Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari IV/143, no. 1926), Shahiih Muslim (IV/779, no. 1109), Sunan Abu Dawud (VII/14, no. 2371), Sunan at-Tirmidzi (II/139, no. 776).]
f. Melanjutkan puasa hingga waktu sahur
Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, bahwasanya dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, bahwasanya dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ
تُوَاصِلُوا, فَأَيُّكُمْ أَرَادَ أَنْ يُوَاصِلَ فَلْيُوَاصِلْ حَتَّى
السَّحَرَ, قَالُوْا: فَإِنَّكَ تُوَاصِلُ يَارَسُوْلَ اللهِ, قَالَ:
لَسْتُ كَهَيْئَتِكُمْ, إِنِّى أُبِيْتُ لِي مُطْعِمٌ يُطْعِمُنِي وَسَاقٍ
يُسْقِيْنِيْ.
“Janganlah kalian menyambung puasa
dan barangsiapa di antara kalian ingin melakukannya, maka hendaklah ia
menyambung puasanya hingga waktu sahur.” Para Sahabat bertanya,
“Bukankah engkau juga menyambung puasa wahai Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam?” Beliau menjawab, “Keadaanku tidak seperti kalian, sesungguhnya Allah telah menyiapkan aku penjaga yang akan memberiku makan dan minum.” [Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud no. 269], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari IV/208, no. 1967), Sunan Abu Dawud (VI/487, no. 2344).]
g. Bersiwak, memakai wangi-wangian, minyak rambut, celak mata, obat tetes mata dan suntikan.
Dasar dibolehkannya semua ini adalah hukum asalnya yang terlepas dari larangan (al-Bara’ah al-Ashliyah), jika hal tersebut diharamkan bagi orang yang berpuasa niscaya Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskannya.
Dasar dibolehkannya semua ini adalah hukum asalnya yang terlepas dari larangan (al-Bara’ah al-Ashliyah), jika hal tersebut diharamkan bagi orang yang berpuasa niscaya Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskannya.
وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا
“Dan tidaklah Rabb-mu lupa” [Maryam: 64]
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis
Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai
al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team
Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama
Ramadhan 1428 – September 2007M]
Sumber : http://almanhaj.or.id/category/view/78/page/1

Post a Comment