Macam-Macam dan Waktu Shalat Berjama’ah

Macam-Macam dan Waktu Shalat Berjama’ah

Allah Ta’aala berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardlu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”[1]
Waktu-waktu shalat yang diwajibkan untuk dilakukan secara berjama’ah adalah:

  • Shalat Jum’at.

Shalat jum’at adalah shalat yang bersifat khusus, yang berbeda dengan shalat zhuhur, yaitu dalam hal pengerasan suara (Jahr), jumlah raka’at, khutbah, syarat-syaratnya, serta kesesuaian waktunya.[2]

Allah Ta’aala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ



“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”[3]

Dengan demikian, Allah telah memerintahkan untuk bersegera menunaikannya. Nilai perintah itu adalah wajib. Tidak diwajibkan bersegera kepada sesuatu, melainkan menuju kepada sesuatu itu adalah wajib. Dia melarang untuk berjual beli agar tidak lupa untuk mengerjakannya. Seandainya shalat jum’at ini tidak wajib, niscaya Dia tidak akan melarang berjual beli karenanya.[4]

Kewajiban shalat jum’at bagi orang yang telah memenuhi delapan syarat sebagai berikut: Islam, baligh, berakal, laki-laki, merdeka, berdomisili di suatu negeri, mendengar seruan adzan, dan tidak adanya halangan.[5]
Waktu shalat jum’at dimulai jika matahari telah tergelincir.[6]

  • Shalat Fardlu Lima Waktu.[7]

Di dalam al-Mughni (I/378)[8] ditegaskan: “Kaum muslimin sepakat bahwasanya shalat lima telah ditetapkan waktunya”. Ibnu  Qudamah mengatakan “berjama’ah adalah wajib untuk shalat lima waktu”.[9]

Di antaranya shalat fardlu lima waktu yang dilakukan secara berjama’ah adalah: Zhuhur, Ashar, Maghrib, ‘Isya’ dan Shubuh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai kelima waktu shalat fardlu tersebut sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhu.
وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ مَا لَمْ يَحْضُرْ الْعَصْرُ وَوَقْتُ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ وَوَقْتُ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبْ الشَّفَقُ وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ اْلأَوْسَطِ وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعْ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتْ الشَّمْسُ فَأَمْسِكْ عَنْ الصَّلاَةِ فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ




"Waktu shalat zhuhur adalah jika matahari telah tergelincir dan bayangan sesorang seperti panjangnya selama belum tiba waktu shalat ashar, dan waktu shalat ashar selama matahari belum menguning, dan waktu shalat maghrib selama mega merah (syafaq) belum menghilang, dan waktu shalat isya` hingga tengah malam, dan waktu shalat shubuh semenjak terbit fajar selama matahari belum terbit, jika matahari terbit, maka janganlah melaksanakan shalat, sebab ia terbit diantara dua tanduk setan."[10]




Demikian pula hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَمَّنِيْ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَم عِنْدَ الْبَيْتِ مَرَّتَيْنِ فَصَلَّى الظُّهْرَ فِي اْلأَوْلَى مِنْهُمَا حِيْنَ كَانَ الْفَيْءُ مِثْلَ الشِّرَاكِ ثُمَّ صَلَّى الْعَصْرَ حِينَ كَانَ كُلُّ شَيْءٍ مِثْلَ ظِلِّهِ ثُمَّ صَلَّى الْمَغْرِبَ حِينَ وَجَبَتْ الشَّمْسُ وَأَفْطَرَ الصَّائِمُ ثُمَّ صَلَّى الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ ثُمَّ صَلَّى الْفَجْرَ حِيْنَ بَرَقَ الْفَجْرُ وَحَرُمَ الطَّعَامُ عَلَى الصَّائِمِ وَصَلَّى الْمَرَّةَ الثَّانِيَةَ الظُّهْرَ حِيْنَ كَانَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ لِوَقْتِ الْعَصْرِ بِاْلأَ  مْسِ ثُمَّ صَلَّى الْعَصْرَ حِيْنَ كَانَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَيْهِ ثُمَّ صَلَّى الْمَغْرِبَ لِوَقْتِهِ ْلأَوَّلِ ثُمَّ صَلَّى الْعِشَاءَ اْلآ خِرَةَ حِيْنَ ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ثُمَّ صَلَّى الْصُّبْحَ حِيْنَ أَسْفَرَتَ اْلأَرْضُ ثُمَّ الْــتــَـفَتَ إِلَيَّ جِبْرِيلُ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ هَذَا وَقْتُ اْلأَ  نــْْــبِيَاءِ مِنْ قَبْلِكَ وَالْوَقْتُ فِيمَا بَيْنَ هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ




"Jibril 'Alaihis Salam pernah mengimamiku di sisi Ka'bah dua kali. Pertama kali, ia shalat zhuhur ketika bayang-bayang seperti tali sandal. Kemudian ia shalat ashar ketika bayangan sesuatu seperti benda aslinya. Kemudian shalat maghrib ketika matahari terbenam dan orang-orang yang berpuasa berbuka. Kemudian shalat isya ketika warna merah di langit hilang. Setelah itu ia shalat subuh ketika fajar terbit dan makanan menjadi haram bagi orang yang berpuasa. Pada kali kedua, ia shalat zhuhur bayangan sesuatu sebagaimana aslinya, persis untuk waktu shalat ashar kemarin. Lalu ia shalat ashar ketika bayangan setiap sesuatu dua kali dari benda aslinya. Kemudian ia shalat maghrib sebagaimana waktu yang lalu, lalu shalat isya yang akhir ketika telah berlalu sepertiga waktu malam. Kemudian shalat subuh ketika matahari matahari telah merekah menyinari bumi. Setelah itu Jibril menoleh ke arahku seraya berkata; "Wahai Muhammad, ini adalah waktu para Nabi sebelummu, dan waktu shalat adalah antara kedua waktu ini."[11]

  • Shalat Kusuf (Gerhana).

Abdullah bin ‘Amr berkata: Ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diserukan semua inisesungguhnya shalat (ini) dilakukan secara berjama’ah”[12]
Di dalam sebuah hadits yang panjang disebutkan bahwasanya:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ : خَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ مَعَهُ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلاً نَحْوًا مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلاً وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ اْلأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ اْلأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ قَامَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلاً وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ اْلأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ اْلأَوَّلِ ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلاً وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ اْلأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ اْلأَوَّلِ ثُمَّ رَفَعَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ تَجَلَّتْ الشَّمْسُ فَقَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَاذْكُرُوْا اللَّهَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْنَاكَ تَنَاوَلْتَ شَيْئًا فِي مَقَامِكَ هَذَا ثُمَّ رَأَيْنَاكَ تَكَعْكَعْتَ فَقَالَ إِنِّي رَأَيْتُ الْجَنَّةَ أَوْ أُرِيتُ الْجَنَّةَ فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتْ الدُّنْيَا وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ قَالُوا لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُفْرِهِنَّ قِيلَ يَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
“Dari Abdullah bin ‘Abbas bahwa ia berkata; Pernah terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat bersama kaum muslimin. Beliau berdiri dengan berdiri yang sangat panjang sebagaimana panjangnya bacaan surat Al-Baqarah. Kemudian beliau ruku' dengan ruku' yang panjang pula. Sesudah itu beliau bangkit dari ruku' lalu berdiri lagi dengan sangat panjang namun tidak sebagaimana panjangnya berdiri beliau yang pertama. Kemudian beliau ruku' dengan panjang, namun tidak sepanjang ruku'nya yang pertama. Lalu beliau teruskan dengan sujud. Setelah itu, beliau bangkit kembali dan berdiri dengan panjang, namun tidak sepanjang berdirinya pertama kali. Kemudian ruku' dengan panjang, tetapi tidak sebagaimana ruku'nya yang pertama. Kemudian beliau bangkit lagi dan berdiri dengan lama, namun tidak selama berdirinya yang pertama. Lalu beliau ruku' kembali dengan lama, tetapi tidak seperti ruku'nya yang pertama. Kemudian beliau bangkit lalu sujud. Setelah beliau selesai shalat matahari pun kembali menampakkan cahaya. Maka beliau pun bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda Allah, tidaklah terjadi gerhana pada keduanya karena kematian seseorang atau pun karena kehidupannya. Jika kalian melihat hal itu, maka berdzikirlah kepada Allah." Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, kamu melihat bahwa Anda sepertinya mendapatkan sesuatu di tempat Anda berdiri, lalu kami melihat bahwa Anda tertahan." Maka beliau pun bersabda: "Sesungguhnya aku melihat surga -atau- surga telah diperlihatkan padaku, lalu aku pun hendak mengambil seranting darinya, sekiranya kalian dapat mengambilnya niscaya kalian akan memakannya selama dunia masih ada. Kemudian aku melihat neraka, maka aku tidak pernah melihat pemandangan seperti yang terjadi pada hari ini. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita." Mereka bertanya lagi, "Kenapa wahai Rasulullah." Beliau menjawab: "Karena kekufuran mereka." Para sahabat bertanya lagi, "Apakah lantaran kekafiran mereka kepada Allah?" beliau menjawab: "Mereka mengkufuri perlakuan dan kebaikan suaminya. Sekiranya kamu berbuat baik kepada salah seorang dari mereka selama setahun penuh, lalu ia melihat sesuatu yang tidak baik darimu, ia pun akan berkata, 'Aku tidak melihat kebaikan sedikit pun darimu."[13]

  • Shalat Istisqa’

Shalat Istisqa’ dikerjakan di Mushalla (tanah lapang), sebagaimana yang disebutkan dalam shahihain, dari ‘Abdullah bin Zaid radhiallahu ‘anhu: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju tempat shalat kemudian melakukan shalat Istisqa’. Beliau menghadap kiblat dan membalikkan rida’ (pakian luar semacam selendang).”

Seluruh kaum muslimin keluar untuk mengerjakan shalat istisqa’ secara berjama’ah dengan rasa tunduk, tawadhu’, penuh rasa takut kepada Allah Ta’aala, dan merendahkan diri dihadapan-Nya. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk mengerjakan shalat Istisqa’ dengan rasa tunduk, tawadhu’, penuh rasa takut, dan merendahkan diri.”[14]

  • Shalat 2 hari raya (hari raya ‘iedul fithri dan ‘iedul adh-ha)

Allah Ta’aala berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah”.[15]

Yang populer di dalam kitab tafsir adalah bahwa yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah shalat ‘Ied.[16]

Adapun dalam al-Sunnah adalah apa yang telah ditetapkan secara mutawatir bahwa Rasulullah pernah mengerjakan shalat ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adh-ha. Dari Ibnu ‘Abbas dia bercerita: “Aku pernah mengadiri shalat ‘Ied bersama Rasulullah, Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman. Mereka semua menunaikan shalat sebelum khutbah.[17] Shalat ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adh-ha dilakukan secara berjama’ah di tanah lapang. Ibnu hajar mengatakan: tanah lapang ketika Rasulullah melakukan shalat ‘Ied adalah sebuah tempat di kota madinah yang jarak antara tempat itu dengan pintu masjid seribu hasta.[18]


Surabaya 10 Sya'ban 1438 H / 08 Mei 2017 M
Abu Muhammad Mukhtar bin Hasan [ Sakinah Supermarket]

[1] QS, 4 (Al-Nisa’), 103.
[2] Said bin Ali bin Wahf Al Qahthani, Ensiklopedi Shalat....., 325.
[3] QS, 62 (Al-Jumu’ah): 9.
[4] Said bin Ali bin Wahf Al Qahthani, Ensiklopedi Shalat....., 325.
[5] Ibid; 328. Lihat penjelasan kedelapan syarat pada buku tersebut mulai halaman 329-334.
[6] Husain bin ‘Audah al-‘Awaisyah, Ensiklopedi Fiqih....., 394.
[7] Ibid; 553.
[8] Ibid; 282.
[9]  Fadhl Ilahi, Shalat mengapa....., 221.
[10] HR Muslim No: 966.
[11] HR al-Tirmidzi No: 138 dan Abu Dawud No: 332.
[12] HR Bukhari No: 563.
[13] HR Bukhari No: 4798 dan Muslim No: 1512.
[14] Husain bin ‘Audah al-‘Awaisyah, Ensiklopedi Fiqih......, 530.
[15] QS, 108 (al-Kautsar): 2.
[16] Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Ensiklopedi Shalat....., 438.
[17] Ibid; 438.
[18] Ibid; 446.
Silakan Share Artikel Ini :

Post a Comment

 
Support me : On Facebook | On Twitter | On Google_Plus
Copyright © 2011. Bapae Muhammad - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger