Keutamaan Shalat Berjama’ah

Keutamaan Shalat Berjama’ah

Salah satu karunia Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya adalah Dia menjadikan pahala yang besar atas pelaksanaan shalat secara berjama’ah. Pahala ini dimulai dari hati yang bergantung di masjid, lalu berjalan kesana untuk melaksanakan shalat berjama’ah, hingga hamba tersebut selesai dari shalatnya. Pahalanya tidak berhenti sebatas di sini, tetapi berlanjut hingga orang tersebut kembali kerumahnya. Demikian pula Allah Ta’ala menjadikan pahala yang khusus atas pelaksanaan shalat isya’, Shubuh dan ‘Ashar dengan berjama’ah.

Beberapa keutamaan shalat berjama’ah meliputi:

1.      Hati yang bergantung di masjid akan berada di bawah naungan (‘Arsy) Allah Ta’ala pada hari kiamat.

Di antara apa yang menunjukkan keutamaan shalat berjama’ah ialah bahwa siapa  yang sangat mencintai masjid untuk menunaikan shalat berjama’ah di dalamnya, maka Allah Ta’ala akan menaunginya di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَ ظِلُّهُ اْلإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسْجِدِ وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ وَرَجُلٌ دَعَتــْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا قَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا صَنَعَتْ يَمِينُهُ  وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ فِي خَلاَءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

 “Ada tujuh golongan yang Allah lindungi mereka dalam lindungan-Nya pada hari kiamat, di hari ketika tiada perlindungan selain perlindungan-Nya, yaitu; imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, seseorang yang senantiasa mengingat Allah saat sendiri sehingga matanya berlinang, seseorang yang hatinya selalu terkait dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, seseorang yang diajak berkencan oleh wanita bangsawan dan rupawan, namun ia menjawab; 'Saya takut kepada Allah', serta seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi, sehingga tangan kirinya tidak tahu menahu terhadap amalan tangan kanannya.”[1]

3.      Shalat berjama’ah 27 kali lipat lebih baik daripada shalat sendirian.

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَلاَ ةُ الْجَمَاعَة أفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjama’ah lebih utama 27 derajat daripada shalat sendirian.”[2]

4.      Dengan shalat berjama’ah, Allah akan memberikan perlindungan kepada pelakunya dari syaitan.

Dari Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ ذِئْبُ اْلإِ نْسَانِ كَذِئْبِ الْغَنَمِ يَأْخُذُ الشَّاةَ َ وَالْقَاصِيَةَ وَالنَّاحِيَةَ فَإِيَّاكُمْ وَالشِّعَابَ وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَالْعَامَّةِ
“Sesungguhnya syaitan itu serigala bagi manusia seperti serigala pemangsa kambing, dia akan memangsa kambing yang sendirian lagi terpencil. Oleh karena itu janganlah kalian terpencar-pencar melainkan kalian harus bergabung dalam jama’ah dan orang banyak.”[3]


5.      Keutamaan shalat jama’ah akan bertambah banyak dengan bertambahnya jumlah orang yang menunaikannya

Hal tersebut didasarkan pada hadits Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu, di dalamnya disebutkan:

إِنَّ صَلاَةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلاَ تِهِ وَحْدَهُ وَصَلاَ تُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلاَ تِهِ مَعَ الرَّجُلِ وَمَا كَثُرَ فَهُوَ أَحَبُّ إلَى اللَّهِ تَعَالَى

“....Sesungguhnya shalat seseorang dengan seorang lainnya adalah lebih suci daripada shalatnya sendiri. Shalatnya dengan dua orang lebih suci daripada shalatnya dengan seseorang. Semakin bertambah banyak akan lebih disukai oleh Allah yang Mahamulia lagi Mahaperkasa.”[4]

6.      Terbebaskan dari Neraka dan sifat kemunafikan bagi orang yang mengerjakan shalat karena Allah selama empat puluh hari dengan berjama’ah dengan selalu mengetahui takbiratul ihram (tidak terlambat).

Hal tersebut didasarkan pada hadits Anas dia bercerita: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersbda:
مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ اْلأُوْلَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ
Barangsiapa yang shalat karena Allah selama 40 hari secara berjama’ah dengan mendapatkan Takbir pertama (takbiratul ihramnya imam), maka ditulis untuknya dua kebebasan, yaitu kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari sifat kemunafikan..”[5]

7.      Barangsiapa mengerjakan shalat shubuh dengan berjama’ah maka dia berada dalam jaminan dan perlindungan Allah sampai dia memasuki waktu sore.

Hal tersebut didasarkan pada hadist Jundad bin ‘Abdullah radhiallahu ‘anhu, dia bercerita: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى صَلاَةَ الصُّبْحِ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبْهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ يُدْرِكْهُ ثُمَّ يَكُبَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

“Barangsiapa mengerjakan shalat shubuh maka dia selalu berada dalam jaminan Allah. Maka sekali-sekali jangan sampai Allah menuntut jaminan-Nya itu kepada kalian dengan sesuatu. Sesungguhnya barangsiapa yang Allah tuntut jaminan-Nya dengan sesuatu (pelanggaran) itu maka Dia akan mendapatkannya lalu menelungkupkan di atas wajahnya ke dalan neraka jahannam.”[6]

8.      Barangsiapa mengerjakan shalat shubuh berjama’ah kemudian dia duduk sambil berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit maka baginya pahala haji dan umrah.
Hal itu didasarkan pada hadist Anas, dia bercerita: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى الْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ...تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

“Barangsiapa mengerjakan shalat shubuh dengan berjama’ah lalu duduk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit kemudian mengerjakan shalat dua rakaat maka pahala shalat itu baginya seperti pahala haji dan umrah, sepenuhnya, sepenuhnya, sepenuhnya.”[7]

9.  Besarnya pahala shalat isya’ dan shubuh berjama’ah.
Hal ini didasarkan pada hadist Usman bin Affan radhiallahu ‘anhu, dia bercerita: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الْصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَ  نَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

“Barangsiapa mengerjakan shalat isya’ berjama’ah maka seakan-akan dia bangun separuh malam. Barangsiapa mengerjakan shalat shubuh berjama’ah maka seakan-akan dia mengerjakan shalat semalam suntuk.”[8]

10.  Berkumpulnya para malaikat malam dan malaikat siang dalam shalat shubuh dan ashar.
Hal ini didasarkan pada hadist Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ , مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ , وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلاةِ الْفَجْرِ وَصَلاةِ الْعَصْرِ ، ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ : كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي ؟ قَالُوا : تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ , وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ

“Para malaikat penjaga malam dan malaikat penjaga siang itu datang silih berganti. Mereka akan berkumpul pada waktu shalat shubuh dan shalat ashar. Malaikat yang menjaga kalian pada waktu malam akan naik dan mereka ditanya oleh Tuhan mereka –dan Dia lebih tahu tentang mereka- Bagaimana kalian meninggalkan hamba-hamba-Ku? Mereka menjawab: kami meninggalkan mereka ketika mereka tengah mengerjakan shalat, dan ketika kami datang kepada mereka, mereka tengah mengerjakan shalat juga.”[9]

11.  Allah merasa bangga pada shalat jama’ah
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhu dia bercerita: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَعْجَبُ مِنَ الصَّلاَةِ فِي الْجَمِيعِ

“Sesungguhnya Allah benar-benar bangga pada shalat yang dilakukan secara berjama’ah.”[10]

Orang yang menunggu shalat jama’ah masih terus dalam shalat sebelum dan sesudahnya selama dia masih tetap berada di tempat shalatnya.

Hal tersebut didasarkan oleh hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا يَزَالُ الْعَبْدُ فِي صَلاَةٍ مَا كَانَ فِي مُصَلاَّهُ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ ، تَقُولُ الْمَلاَئِكَةُ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ . حَتَّى يَنْصَرِفَ أَوْ يُحْدِثَ " . قَالَ : وَمَا يُحْدِثُ ؟ قَالَ : " يَفْسُو أَوْ يَضْرِطُ
“Seorang hamba akan tetap dalam keadaan shalat selama dia tetap berada di tempat shalatnya untuk menunggu shalat. Maka para malaikat berdo'a: “Wahai Allah ampunilah dia, rahmatilah dia sampai dia pergi atau berhadats”, ditanya: “Apakah (maksudnya) sampai dia berhadats?” dijawab: “mengeluarkan angin atau kentut.[11]

12.  Para malaikat mendo'akan orang yang shalat berjama’ah sebelum dan sesudahnya dan selama dia masih tetap berada di tempat shalatnya, selama dia belum beadats atau menyakiti orang lain.

Hal ini didasarkan pada hadist Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, di dalamnya disebutkan
لا يَزَالُ الْعَبْدُ فِي صَلاةٍ مَا كَانَ فِي مُصَلاهُ يَنْتَظِرُ الصَّلاةَ ، تَقُولُ الْمَلائِكَةُ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ . حَتَّى يَنْصَرِفَ أَوْ يُحْدِثَ


“...Seorang hamba masih tetap dalam keadaan shalat selama dia masih tetap berada di tempat shalatnya untuk menunggu shalat. Maka malaikat berdo'a: Ya Allah. Ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia, sampai dia selesai atau beadast.”[12]

13.  Keutamaan barisan pertama dan barisan sebelah kanan dalam shalat berjama’ah serta keutamaan menyambung barisan.
Dari al-Bara’ bin Azib radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Beliau pernah bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوْا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوْا عَلَيْهِ ، لاَسْتَهَمُوْا
“Seandainya ummat ini mengetahui pahala yang terkandung pada seruan adzan dan juga pada barisan pertama shaff kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali melalui undian, niscaya mereka akan berundi.”[13]

Dalam lafadz muslim disebutkan:

لَوْ تَعْلَمُونَ أَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ ، لَكَانَتْ قُرْعَةً
“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat atas barisan-barisan terdepan.”[14]



Surabaya 10 Sya'ban 1438 H / 08 Mei 2017 M
Abu Muhammad Mukhtar bin Hasan [ Sakinah Supermarket]


[1] HR Bukhari No: 396 dan Muslim No: 537.
[2] HR Bukhari No: 390 dan Muslim No: 1038.
[3] HR Ahmad No: 21020, 21091.
[4] HR Abu Dawud No: 467 dan Al-Nasa'i No: 834.
[5] HR Al-Tirmizdi No: 224.
[6] HR Muslim No: 1051.
[7] HR Al-Tirmidzi No: 535.
[8] HR Muslim No: 1049.
[9] HR Bukhari No: 522 dan  Muslim No: 1001.
[10] HR Ahmad No: 4866.
[11] HR Bukhari No: 170 dan Muslim No: 1061.
[12] HR Bukhari No: 170 dan Muslim No: 1061.
[13] HR Bukhari No: 580 dan Muslim No: 661.
[14] HR Muslim No: 663.
Silakan Share Artikel Ini :

Post a Comment

 
Support me : On Facebook | On Twitter | On Google_Plus
Copyright © 2011. Bapae Muhammad - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger